Wednesday 4 February 2026 - 16:00
Apa makna "Ummi" yang Dinisbatkan Pada Diri Nabi Muhammad Saww?

Hawzah/ Salah satu pertanyaan penting tentang Rasulullah saww. adalah apa makna istilah "ummī" yang disandang beliau. Apakah kata ini berarti beliau sama sekali tidak memiliki kemampuan membaca dan menulis?

Berita Hawzah – Nabi Muhammad Saww secara lahiriah tidak bisa membaca dan menulis, dan di tengah kaumnya beliau tidak dikenal sebagai seorang yang berpendidikan; karena mereka tidak pernah melihat beliau membaca atau menulis sesuatu. Oleh karena itu, mereka menyebut beliau "ummī". Al-Qur'an pun menyebut beliau dengan sifat ini. Allah Ta‘ala berfirman:


«الَّذِینَ یَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِیَّ الْأُمِّیَّ…»

"orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi"

«… فَآمِنُوا بِاللّٰهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ …»

"maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang umi"... .(1)

Kata "Ummī" disandarkan kepada kata "umm" (ibu), yang artinya seseorang yang—sebagaimana saat dilahirkan dari ibunya—tidak memiliki kemampuan baca-tulis. Ada pula pendapat lain yang mengatakan bahwa “ummi” dinisbatkan kepada “Ummul Qura” (kota Makkah), yakni orang yang berasal atau dilahirkan di Makkah. Dalam Al-Qur'an, derivasi kata ini juga muncul di ayat lain:


«هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ …»

"Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka …"(2)

Mungkin saja makna kata “ummi” pada ayat ini adalah orang-orang yang berasal dari kota Mekah. Namun, makna pertama lebih masyhur dan lebih selaras dengan ayat-ayat Al-Qur’an lainnya, seperti firman Allah Swt:

«وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لَا يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلَّا أَمَانِيَّ …»

"Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab (Taurat), kecuali dongengan bohong belaka …"(3)

Tampaknya, penafsiran kata "Ummiyyun" merujuk pada orang-orang yang tidak dapat membaca dan menulis. Pemahaman ini didukung melalui perbandingan antara orang-orang Arab pada masa itu dengan Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang pandai (bisa membaca dan menulis)—karena adanya huruf penghubung ('Athf) dalam susunan kalimat menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah ketidakmampuan dalam baca-tulis. Penafsiran ini semakin diperkuat oleh sebuah hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah Saw, yang bersabda:

«إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ لَا نَكْتُبُ وَلَا نَحْسِبُ»

"Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak menulis dan tidak menghitung."(4)

Bukti mukjizat dari Al-Qur'an adalah fakta historis bahwa Nabi Muhammad Saww tidak pernah membaca atau menulis kitab suci sebelumnya, bukan pada ketidakmampuannya secara umum untuk membaca dan menulis. Hal ini disebutkan dalam firman Allah Swt:

«وَ مَا کُنْتَ تَتْلُوا مِن قَبْلِهِ مِن کِتَابٍ وَ لَا تَخُطُّهُ بِیَمِینِکَ إِذًا لَّارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ»

"Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Qur'an) sesuatu Kitab pun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; andai kata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari (mu)."(5)

Ayat ini membuktikan bahwa Nabi Muhammad Saww tidak pernah membaca atau menulis kitab sebelumnya. Namun, ayat itu tidak membuktikan bahwa beliau tidak mampu membaca dan menulis. Cukup dengan fakta ini saja untuk membungkam para pengingkarnya; sebab mereka sama sekali tidak mengira bahwa Nabi Muhammad Saw adalah seorang yang berpendidikan, sehingga jalan untuk menggugat kebenaran wahyu pun tertutup bagi mereka.

Syaikh Abu Ja‘far ath-Thusi dalam menafsirkan ayat ini menyatakan: "Para mufasir umumnya berpendapat bahwa Rasulullah Saw tidak memiliki kemampuan baca-tulis. Namun, ayat ini tidak secara eksplisit menunjukkan ketidaktahuan beliau (dalam baca-tulis) . Akan tetapi, ayat ini hanya menjelaskan bahwa beliau tidak pernah menulis dan tidak membaca (secara kebiasaan). Ada kemungkinan seseorang tidak pernah menulis, tetapi sebenarnya mampu menulis, dan secara lahiriah tampak sebagai seorang yang ummi (tidak bisa baca-tulis). Dengan demikian, makna ayat ini adalah: 'Rasulullah tidak pernah melakukan aktivitas menulis dan membaca, serta tidak terbiasa melakukannya.'"(6) Allamah Thabathaba'i menegaskan bahwa secara zahir, ayat ini menyangkal adanya kebiasaan menulis dan membaca pada Nabi Muhammad Saw, bukan menafikan kemampuannya. Penafsiran ini lebih kuat dan relevan dengan tujuan argumentasi ayat tersebut. (7) Di samping itu, kemampuan baca-tulis merupakan suatu kesempurnaan, sementara buta huruf adalah kekurangan dan aib. Mengingat seluruh kesempurnaan Nabi Muhammad saw. bersumber dari anugerah khusus Ilahi, serta beliau sama sekali tidak pernah belajar dari seorang guru mana pun (melainkan ilmu laduni), maka mustahil alam kesucian (maqam) beliau kosong dari kesempurnaan ini. (8)

Catatan Kaki:

1. Al-Qur'an Al-Karim, Surah Al-A'raf, ayat 157 dan 158.
2. Ibid., Surah Al-Jumu'ah, ayat 2.
3. Ibid., Surah Al-Baqarah, ayat 78.
4. Shahih al-Bukhari, karya Abu Abdullah Al-Bukhari Al-Ju'fi, Muhammad bin Ismail, tahqiq: Mustafa Dib Al-Bugha, Dar Ibnu Katsir, Al-Yamamah, Beirut, 1407 H/1987 M, cetakan ketiga, jilid 2, hlm. 675; Shahih Muslim, karya Abu Al-Husain Al-Qusyairi An-Naisaburi, Muslim bin Al-Hajjaj, tahqiq: Muhammad Fuad Abdul Baqi, Dar Ihya At-Turats Al-'Arabi, Beirut, tanpa tahun, jilid 2, hlm. 759; Mafatih Al-Ghaib, karya Fakhruddin Ar-Razi, Abu Abdullah Muhammad bin Umar, Dar Ihya At-Turats Al-'Arabi, Beirut, 1420 H, cetakan ketiga, jilid 15, hlm. 380; Manaqib Al Abi Thalib (alaihim as-salam), karya Ibnu Syahr Asyub Al-Mazandarani, Muhammad bin Ali, Allamah, Qom, 1379 H, cetakan pertama, jilid 1, hlm. 231.
5. Al-Qur'an Al-Karim, Surah Al-Ankabut, ayat 48.
6. At-Tibyan fi Tafsir Al-Qur'an, karya Ath-Thusi, Muhammad bin Hasan, tahqiq: Al-Amili, Ahmad Qashir, Dar Ihya At-Turats Al-'Arabi, Beirut, tanpa tahun, jilid 8, hlm. 216.
7. Al-Mizan fi Tafsir Al-Qur'an, karya Ath-Thabathaba'i, Sayid Muhammad Husain, Islamic Publications, Qom, 1417 H, cetakan kelima, jilid 16, hlm. 139.
8. Diambil dari buku: 'Ulum Al-Qur'ani, karya Ma'rifat, Muhammad Hadi, Mu'assasah Farhanggi Intisharati At-Tamhid, Qom, 1381 HS, hlm. 32.

Sumber: Kitab A'in-e Rahmat / Ayatullah Makarim Syirazi.

Tags

Your Comment

You are replying to: .
captcha